Ditulis di http://bayi-anak.blogspot.com tanggal 29 des 2008
Putraku sekarang berusia 22 bulan . artinya ia belum 2 tahun loh. Dan ia sudah hafal huruf A sampai Z dan angka 1 sampai 10. Semenjak hamil, aku bercita-cita ingin agar anakku dapat membaca sebelum ia masuk TK. Hal itu tercetus saat aku berjalan-jalan membeli perlengkapan bayi, aku melihat
kartu membaca untuk bayi. harganya hanya Rp.35.000,- jadi menurutku sih kalo untuk investasi untuk masadepan sang buah hati wajar-wajar saja. aku membaca petunjuknya. bayangkan, belum lahir saja aku sudah merencanakan persiapan macam-macam, dan metode belajar apa untuk si kecil.
Namun, mengenai pendidikan usia dini yang terkesan membebani anak, memang memiliki pro dan kontra. menurut artikel suatu media, banyak “orang stres” yang disebabkan karena dari kecil si orang tersebut belajar berlebihan, di saat dewasa nanti ia jadi stres. wah, bisa ya bisa tidak. menurutku, semua tergantung bagaimana lingkungan memperlakukan si anak tersebut. Dan jika si anak tersebut memiliki kpribadian yang tangguh, ia dapat bertahan di lingkungan yang seperti apapun. Ingin menjadi individu yang tangguh, tetap kembali ke orangtua, dan pendidikan yang diterima di rumahnya (agama tentunya) akan menjadi senjatanya nanti.
Perlakuan orangtua kepada si anak sejak ia bayi, pasti membentuk kepribadiannya. agar menjadi anak yang tangguh, perlakukan bayi dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. pahami apa keinginannya. jika bayi menangis, orangtua janganlah marah2, tapi analisa mengapa bayi Anda menangis. oke itu memang sedikit sari yang saya baca dari suatu buku berjilid hard cover berwarna putih. hahaha untuk judulnya dan penulisnya tidak akan saya sebutkan. tebak aja sendiri ya.. karena kali ini kita ingin bicara mengenai putera saya yang sudah bisa baca di usinya yang baru 21 bulan.
Nah karena pro dan kontra tadi, saya pun angin-anginan menjalankan metoda belajar yang disajikan oleh kartu tersebut (belakangan saya simpulkan, mungkin inilah metoda glenn doman). paling hanya memperkenalkan bahwa itu adalah huruf, kata, tidak lebih. saya tidak pernah membebani anak saya. saya tidak menuntutnya untuk bisa membaca. Namun, suatu hari saya iseng mencoba menyanyikan lagu ABCD (itu loh lagu anak2, menyebutkan huruf A-Z). anak saya yang masih berusia 1,5 tahun senang sekali. Namun, untuk urusan buku cerita, wajib bagi saya membacakannya. dengan alasan, agar anak saya cinta buku dan membaca.
Kali ini saya tambahkan dengan menuliskan hurufnya di schedule board saya yang akhirnya berganti fungsi menjadi white board putra saya. sambil menyanyikan lagu ABCD, saya menulis hurufnya satupersatu sesuai dengan apa yang saya nyanyikan. hasilnya, alhamdulillah ia selalu tertawa terbahak-bahak melihat saya. dan semakin lama anak saya selalu menuntut saya (seolah menjadi rutinitas) untuk menyanyikan lagu itu setiap hari, minimal 8 kali sehari… dalam hati saya berkata “waduh, senjata makan tuan” hahaha. tapi tak apalah asal si kecil senang.
Hal ini mulai menjalar, ia mulai membuka-buka majalah G*t*a, N*k**a, koran, dan apapun yang mengandung tulisan, ia menuntut saya agar menyebutkan setiap hurufnya (Tenang, masih sebatas headlinenya saja). Suatu hari, suami saya membacakannya buku cerita dan ia mulai berceloteh A, I, U, E, O, B, P, S. suami saya penasaran, ia mulai mengetes ingatan putra saya. Suami menanyakan yang manakah huruf A, C, D, dan seterusnya. dan putra saya menjawab dengan benar semua pertanyaan suami saya.
Ah mungkin kebetulan. tapi saya coba hal itu dan ternyata putra saya memang bisa baca huruf-huruf itu. tak lupa dengan angkanya. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. putra saya dapat membaca tanpa harus saya tuntun atau tekan. saya tak pernah mentargetkan putra saya dapat membaca di usianya yang sekecil ini. Ia belum genap 2 tahun.
Nah saking senangnya, saya menceritakan hal ini pada teman-teman. dan saya tuliskan pengalaman saya ini untuk teman-teman semua.
semoga bermanfaat dan mungkin teman-teman akan menemukan metoda yang lebih barvariasi. karena setiap anak adalah unik. memperlakukannya juga berbeda-beda. teruslah berjuang para orangtua.
Expand All
- July 2010 (1)
- April 2010 (4)
- March 2010 (3)
- February 2010 (1)
- January 2010 (2)
- October 2009 (1)
- September 2009 (1)
- July 2009 (8)
- June 2009 (10)